Pages

19 Mei 2013

USWATUN HASANAH & MAU'IDATUL HASANAH




Oleh: Rofiqoh Anur

A. Uswatun Hasanah

    Uswatu hasanah terdiri dari dua rangkaian kalimat, uswah dan hasanah. Uswah berarti ; ikutan, panutan. Hasanah bermakna “yang baik”. Uswatun Hasanah adalah contoh suri teladan yang baik. Bagi umat islam tokoh utama yang menjadi uswatun hasanah tak lain adalah Rasulullah saw. Hal ini Allah sebut dalam Q.S Al - Ahzab ayat 21:
  
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21)

    Ayat ini turun ketika terjadi perang Khandaq. Waktu itu , Rasulullah dan para sahabatnya menggali parit di sebelah utara kota Madinah sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi koalisi musuh gabungan antara kaum jahiliyah Mekah dengan bala bantuan Yahudi dan Nasrani Madinah. Parit yang digali itu cukup panjang, lebar dan dalam. Perbekalan yang tersedia sangat menipis, sehingga para sahabat terpaksa mengganjal perutnya dengan batu sebagai penahan rasa lapar. Beberapa sahabat datang kepada Rasulullah mengadukan keadaan mereka yang kelaparan, sambil memperlihatkan perutnya yang diganjal batu. Maka Rasulullah pun membukakan bagian perutnya, dan nampaklah dua buah batu mengganjal perut beliau, kemudian turunlah Q.S al-ahzab ayat 21 di atas. Rasulullah memberi teladan yang baik kalau para sahabat hanya diganjal dengan satu buah batu, beliau malah diganjal dengan dua buah batu, disini jelas bahwa rasulullah lebih merasakan lapar dari pada sahabat–sahabatnya, ini memberi contoh bahwa pemimpin tidak boleh hanya mengutamakan diri sendiri, tetapi harus memperhatikan nasib rakyatnya. Sebagai uswatun hasanah, Rasulullah memiliki budi pekerti yang luar biasa. Allah memuji budi pekerti Rasulullah dalam Q.S Al Qalam ayat 4:

Sesungguhnya engkau memiliki budi perkerti yang agung (QS Al-Qalam ayat 4)

    Karena keluhuran akhlak beliau, maka Allah jadikan semua perkataan, perbuatan dan ketetapan beliau sebagai landasan hukum bagi umat islam yang ke dua setelah Al-Quran.
Keluhuran budi pekerti Rasulullah berada pada semua aspek. Rasulullah merupakan suri teladan yang sempurna. Sebagai seorang pemimpin agama, beliau memperlihatkan akhlak seorang Nabi yang berjuang dengan santun, sabar, dan ikhas. Dalam berdakwa beliau tabah menghadapi gangguan dari musuh-musuh beliau yang tak lain berasal dari kaum beliau sendiri. Ketika berdakwah ke kota Thaif, Rasulullah mendapat perlakuan kasar, dilempari kotoran dan hewan batu sampai kaki beliau terluka. Dalam keadaan demikian Allah memberikan izin kepada malaikat penjaga gunung untuk membalikkan gunung keatas kaum Thaif bila Rasulullah kehendaki. Namun Rasulullah saw malah berdoa supaya Allah melahirkan dari keturunan mereka kaum yang menyembah Allah swt, tidak mempersekutukanNya. Sebagai seorang pemimpin negara, Rasulullah memperlihatkan kepada umatnya bagaimana seharusnya akhlak seorang pemimpin. Beliau menjadi seorang pemimpin yang memecahkan masalah dengan musyawarah, padahal pandangan beliau sendiri sudah cukup tanpa perlu bermusyawarah dengan para shahabat. Cara dan metode Rasulullah dalam memimpin umat diikuti oleh empat shahabat utama beliau yang memerintah setelah wafat Rasulullah, sehingga dijuluki dengan Khulafaur Rasyidin; para pengganti yang mendapat petunjuk. Dalam kehidupan rumah tangga, Rasulullah juga menjadi contoh suami yang baik, selalu bersikap sabar, arif, dan mencintai keluarganya, berlaku adil terhadap istri-istri beliau. Beliau tidak terlalu menyibukkan istri-istrinya, bahkan kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual. Rasulullah juga memberikan contoh hidup zuhud di dunia ini. Dalam satu dikisahkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, "Umar bin Al- Khaththab ra. bercerita kepadaku, "Aku pernah memasuki rumah Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam, yang saat itu beliau sedang berbaring di atas selembar tikar. Setelah aku duduk di dekat beliau, aku baru tahu bahwa beliau juga menggelar kain mantelnya di atas tikar, dan tidak ada sesuatu yang lain, Tikar itu telah menimbulkan bekas guratan di lambung beliau. Aku juga melihat di salah satu pojok rumah beliau ada satu takar gandum. Di dinding tergantung selembar kulit yang sudah disamak. Melihat kesederhanaan ini kedua mataku meneteskan air mata. Mengapa engkau menangis wahai Ibnul-Khaththab?" tanya beliau "Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis jika melihat gurat-gurat tikar yang membekas di lambung engkau itu dan lemari yang hanya diisi barang itu? Padahal Kisra dan Kaisar hidup di antara buab-buahan dan sungai yang mengalir. Engkau adalah Nabi Allah dan orang pilihan-Nya, sementara lemari engkau hanya seperti itu. Rasulullah menjawab "Wahai Ibnul- Khaththab, apakah engkau tidak ridha jika kita mendapatkan akhirat, sedangkan mereka hanya mendapatkan dunia? ".
Kedudukan Rasulullah sebagai uswatun hasanah dengan akhlak yang luhur merupakan salah satu hikmah diutusnya beliau ke muka bumi ini yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Dalam satu hadits Rasulullah bersabda:


“saya diutus untuk menyempurnakan akhlak”

Dengan akhlak yang luhur tersebutlah, beliau mampu mengajak umat untuk beriman hanya dalam jangka waktu yang singkat. Keberhasilah dakwah Rasulullah tidak terlepas dari akhlak mulai beliau, dalam Q.S Ali Imran ayat 159 Allah berfirman:


Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang- orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Semua kalangan mengakui bahwa Rasulullah merupakan seorang tokoh yang memiliki sifat luhur. Semenjak kecil beliau telah dijukuli dengan “Al- Amin” yang berarti “orang terpercaya”. Bahkan Michael H. Hart dalam bukunya 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah menjatuhkan pilihannya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar 100 Tokoh Paling berpengaruh di dunia. Ia mengatakan “saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu- satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar”.


B. Al-Mau'idatul Hasanah

    Al Mauidhotul hasanah atau lebih akrab kita mengenalnya dengan kata Nasehat, berasal dari kata( ﺢﺼﻧ ) berarti ( ﺺﻠﺧ ) murni, dan bersih dari kotoran, dan juga berarti ) ﻁﺎﺧ ) menjahit. Al Mau’idhatul Hasanah adalah pelajaran yang baik. Sedangkan nasehat adalah salah satu dari Al Mau’idhatul Hasanah yang bertujuan mengingatkan segala perbuatan pasti ada sangsi dan akibat. Sebagaimana dikutip oleh Munzier Suparta , Imam Al Asfahani mengatakan bahwa Al Mau’idhah merupakan tindakan mengingatkan seseorang dengan baik dan lembut agar dapat melunakkan hatinya lalu tertarik dengan ajakannya. Abdul Muhsin Al Abbad berkata : Nasehat adalah kata yang meliputi pendirian orang yang menasehati kepada mad’u dari sisi kebaikan baik secara kehendak maupun perbuatannya. Sementara itu Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan bahwa nasehat adalah mencurahkan perhatian kepada orang lain untuk tertarik kepada kebaikan, mendorong untuk melakukannya, menjelaskannya dan berusaha agar orang tersebut mencintai kebaikan yang ditawarkan. Secara terminologi, Nasihat adalah memerintah atau melarang atau menganjurkan yang dibarengi dengan motivasi dan ancaman. Pengertian nasihat dalam kamus Bahasa Indonesia adalah memberikan petunjuk jalan yang benar. Juga berarti mengatakan sesuatu yang benar dengan cara melunakkan hati. Nasehat harus berkesan dalam jiwa atau mengikat jiwa dengan keimanan dan petunjuk.
Pendapat para ahli diatas, menunjukkan makna bahwa motivasi seseorang melakukan mau’idhotul hasanah adalah agar orang yang diberi nasehat tertarik dengan apa yang akan diberikan, dimana hal itu dilakukan dengan mencurahkan perhatian secara penuh, dengan harapan al manshuh ilaih ( orang yang dinasehati ) menjadi lunak hatinya untuk kemudian terdorong untuk melakukan kebaikan yang ditawarkan.


Dalil - Dalil Perintah AL - Mau'idhatil Hasanah dalam Al - Qur'an dan Hadits

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( QS. An Nahl : 125 )
"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan Aku memberi nasehat kepadamu. dan Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui" ( QS. Al A’raf : 62 )
“ dan kalaulah mereka melaksankan pengajaran yang diberikan kepada mereka niscaya hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka danlebih menguatkan iman mereka “ ( QS.An Nisa : 66 )
Dari Abu Ruqoyyah Tamiim bin Aus Ad-Daari rodhiyallohu’anhu, sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ”Agama itu adalah nasihat”. Kami (sahabat) bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau bersabda: ”Untuk Alloh, kitab-Nya, rosul-Nya, pemimpin-pemimpin umat islam, dan untuk seluruh muslimin.” (HR.Muslim)
“Dari Jarir bin Abdullah rodhiyallahu ‘anhu berkata ; “ Aku melakukan baiat ( janji setia ) kepada rasulullah untuk mendirikan shalat, membayar zakat dan member nasehat kepada setiap muslim ( Mutafaqun ‘alaihi )”

Ruang Lingkup Nasehat

     Sesuai dengan hadits nabi diatas yang diriwayatkan oleh sahabat Tamim bin Aus Ad Dary, Rasulullah menjelaskan bahwa nasihat dalam dakwah Islam ini meliputi nasehat kepada Allah, kepada kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh umat Islam.

a. Nasihat kepada Allah
Nasehat kepada Allah adalah menjauhi laranganNya dan melaksanakan segala perintahNya dengan seluruh kemampuan yang dimiliki seseorang, apabila ia tidak mampu karena udzur, maka dia tetap berniat untuk melaksanakan kewajiban tersebut. Sedangkan menurut penjelasan Abdul Muhsin Al Abbad tentang Nasehat kepada Allah adalah :
“ Nasihat kepada Allah adalah mentauhidkan-Nya, dan mensifatiNya dengan sifat-sifat yang sempurna lagi agung, mensucikanNya dari apa yang bertentangan dengan hal itu, menjaukan diri dari berbuat maksiat kepadaNya, berusaha melakukan ketaatan-ketaatan kepadaNya dengan senang hati dan ikhlas, cinta kerana Allah dan benci karena Allah, memerangi orang-orang yang mengingkariNya, dan tidak rela dengan hal itu, mengajak kepada itu semua yang telah disebutkan dan menganjurkannya. Berbeda dengan dua pendapat diatas, Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan bahwa nasehat kepada Allah mengandung dua perkara, yaitu memurnikan ibadah hanya kepadaNya, bersaksi dengan ke-Esa-anNya dalam rububiyahNya, penghambaan kepadaNya, dan Asma wa SifatNya. Melihat penjelasan para Ulama diatas, maka maksud dakwah sebagai nasehat kepada Allah tidak ada yang lain kecuali untuk menegakkan kebenaran kalimat Allah, mengibarkan panji-panji Tauhid ditengah-tengah kehidupan manusia, sehingga mereka hidup diatas fithrah yang suci bertuhan dan menghamba hanya kepada Allah semata.

b. Nasehat kepada kitab-Nya
Adapun nasihat kepada kitabNya ialah dengan mengimani sepenuh hati bahwa Al Quran itu kalamullah, wajib mengimani apa yang terkandung didalamnya, mengamalkan, memuliakan dan membaca sebenar-benarnya, mengutamakan Al Quran dari yang lain, dan penuh perhatian untuk mengkaji dan mempelajarinya. Sedangkan menurut Al Utsaimin nasihat kepada Allah mengandung enam perkara yaitu :
·         Membela Al quran dari penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang sesat dan menjelaskan kebathilan penyimpangan orang yang menyeleweng.
·         Membenarkan kabar Al Quran dengan sebenar-benarnya, tanpa meremehkan dan mendustakan kandungan didalamnya, dan seandainya dia mendustakan apalagi ragu-ragu terhadap satu kabar dari Al Quran berarti dia belum menjadi orang yang memberi nasehat kepada Al Quran.
Melaksanakan seluruh perintah yang ada didalamnya sekalipun hanya satu perintah, jika belum mengerjakannya maka belum dikatakan sebagi orang yang memberi nasihat kepada Al Quran.

c. Nasehat kepada Rasul-Nya
Nasihat kepada Rasul-Nya yaitu dengan meyakini bahwa beliau sutama-utama makhluk dan kekasih Allah. Allah mengutusnya kepada manusia agar beliau mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang dan menjelaskan kepada mereka jalan allah yang lurus agar mereka mendapatkan kenikmatan surga dan terhindar dari api neraka dengan mencintainya, memuliakannya dan mengikutinya. Barang siapa yang taat kepada beliau, maka ia taat kepada Allah. Barangsiapa yang menentangnya maka ia telah menentang Allah dan kelak akan diberi balasan yang setimpal. Menurut Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Nasehat kepada Rasul-Nya mengandung beberapa perkara yaitu :
·         Semata-mata hanya mengikuti beliau dan tidak mengikuti orang selain beliau.
·         Mengimani sepenuh hati bahwa beliau adalah benar-benar Rosulullah, bukan orang yang mengada-ada tentang agama ataupun dengan mengatakan agama Islam ini adalah buatan beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam.
·         Mengimani seluruh kabar yang datang dari beliau baik kabar tersebut telah berlalu terjadinya, maupun sedang terjadi, ataupun yang akan terjadi kelak.
·         Melaksanakan perintah beliau dan menjauhi larangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
·         Tidak meremehkan syariat ataupun sunnah-sunnah beliau SAW.
·         Meyakini sepenuh hati bahwa apapun yang datang dari beliau maka hal itu seperti apa yang datang dari Allah.
Menolong nabi dikala nabi masih hidup, adapun ketika beliau sudah wafat maka dengan menolong sunnah-sunnah beliau SAW dengan berusaha menghidupkan kembali sunnah-sunnah beliau.

d. Nasehat kepada para pemimpin
Nasihat kepada para pemimpin ada dua jenis;
Pertama, nasihat kepada para Ulama Rabbani yaitu mereka yang mewarisi nabi SAW dalam hal ilmu, ibadah, akhlaq dan dakwah. Dan merekalah ulil amri yang sebenarnya, karena merekalah yang langsung bersinggungan dengan urusan kalangan orang awam dan pemerintah, menjelaskan agama Allah dan mengajak manusia kepadanya. Kepada para Ulama ini nasihatnya adalah mencintai mereka, membantu mereka dalam menjelaskan Al Haq, tidak melecehkan mereka.
Kedua, nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin, yaitu umara’ ( pemerintah ) yang menegakkan syariat Allah dan melayani urusan-urusan kaum muslimin. Kepada mereka ini nasihatnya adalah mempercayai bahwa mereka adalah imam mereka dalam urusan keduniaan, menyebarkan kebaikan mereka, bukan mengumbar aib mereka, mentaati aturan-aturan yang ada selama bukan bermaksiat kepada Allah.

e. Nasehat kepada seluruh umat islam
Nasihat kepada seluruh ummat Islam adalah dengan menolong mereka dalam hal kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar, dakwah, saling memberi nasehat, mencintai mereka dalam hal keimanan.

 Referensi:

·         Munzier Suparta dan Harjanie Hifnj, Metode Dakwah, Jakarta : Kencana, 2006, hal.243
·         Djamaluddin Ahmad Al-Buny, Uswatun Hasanah, Yogyakarta: Mitra Pustaka,1980

3 komentar:

  1. Mauidhoh itu bahasa Arab. Dari akar kata وعظ يعظ عظة وموعظا وموعظة
    Silakan kembangkan sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. http://shamela.ws/browse.php/book-7496/page-4

      Hapus
  2. http://shamela.ws/browse.php/book-96464/page-45

    BalasHapus