19 Mei 2013

Takdir Muallaq dan Takdir Mubrom




Oleh : Maftuhah
  1. Pengertian
1.      Takdir Muallaq
Takdir yang bergantung pada ikhtiar seseorang atau usaha menurut kemampuan yang ada pada manusia merupakan pengertian dari takdir muallaq.
Dalam syarah kitab hadist Arba’in Nawawi dijelaskan bahwa takdir muallaq merupakan takdir yang tergantung yang dikelompokkan menjadi dua macam takdir;
1)      Takdir Dalam Lauhul Mahfuzd
Takdir yang ada dalam lauhul mahfuzd. Takdir ini mungkin dapat berubah, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ar-Ra’du ayat 39 yang berbunyi ;
 يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ
“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan di sisiNYa lah Ummul Kitab (lauhul mahfuzd).


2)      Takdir yang Diikuti Sebab Akibat
Takdir yang berupa penggiringan hal-hal yang telah ditetapkan kepada waktu-waktu DAN HAL- HAL  yang telah ditentukan. Gambarannya: “Seandainya hambaku berdo’a atau bersilaturrahmi dan berbakti kepada kedua orang tua, maka Aku jadikan dia begini, jika dia tak berdo’a dan tidak bersilaturrahmi serta durhaka kepada kedua orang tua, maka ia Aku jadikan seperti ini..”
Maksudnya bahwa takdir itu atas kehendak Allah SWT namun penyebab adanya takdir itu bisa dirubah dengan perbuatan-perbuatan kita, seperti contoh dengan do’a dan usaha. Nabi Muhammad SAW bersabda ;
انالد عأ والبلأ بين السمأ والأرض يقتتلا ن ويد فع الد عأ البلأ قبل ان ينز ل
“sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun.”
Hadist diatas menjelaskan persoalan adanya sebab dan akibat yaitu sebab do’a maka tidak timbul bencana, tetapi hadist tersebut bisa diterapkan dalam contoh yang lain, missal dengan belajar maka pintar, dengan bekerja maka mendapat penghasilan, dll.
Firman Allah SWT juga menjelaskan dalam surat Al Jaastsiyah; 15 dan surat Al Isra’ ; 7 yang artinya :
"barang siapa mengerjakan amal sholeh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (Al- Jaatsiyah;15)
 “ jika kamu berbuat baik(berarti) kamu berbuat baik bagi dirimusendiri dan jika kamu berbuat jahat,maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua,( kami datangkan orang) lain untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai” (Al-Israa’;7)
Ayat-ayat diatas menjelaskan bahwa bila manusia itu berbuat kebaikan dan keburukan, hal ini adalah merupakan sesuatu yang timbul dari kesadaran sepenuhnya sebagai manusia yang bertanggung jawab atas tingkah laku perbuatannya. Maka bila seseorang itu tahu bahwa kebaikan yang dilakukannya itu adalah sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. Sebaliknya bila ia berbuat kejahatan, tentulah dia tahu, bahwa perbuatan yang dilakukannya itu adalah salah, kadangkala sangatlah disayangkan, diantara manusia ada yang sanggup melawan suara hati nuraninya sendiri.


2.      Takdir Mubrom
Takdir mubrom yaitu takdir yang tidak dapat untuk dielakkan, pasti terjadi pada diri manusia yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan manusia tidak mempunyai kesempatan untuk memilihnya.
Dalam syarah kitab Hadist Arba’in Nawawi dijelaskan bahwa takdir mubrom (tetap) dikategorikan menjadi dua bagian yaitu:
1)      Takdir Dalam Ilmu Allah SWT
Takdir ini tidak mungkin dapat berubah, sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda;

لاَيَهْلِكُ اللهُ إلاَّ هَالِكًا
“tiada  Allah mencelakakan kecuali orang celaka, (yaitu orang yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah ta’ala bahwa dia adalah orang celaka)”
2)      Takdir Dalam Kandungan
Takdir dalam kandungan, yaitu malaikat diperintahkan untuk mencatat rizki,umur,pekerjaan,kecelakaan dan kebahagiaan dari bayi yang ada dalam kandungan tersebut. Maka takdir ini termasuk dalam takdir yang tidak dapat dirubah sesuai kelanjutan dari hadist diatas. Takdir ini termasuk takdir dari Ilmu Allah SWT yang telah digariskan dalam tubuh sang jabang bayi. Sesuai  hadist Nabi Muhammad SAW,berbunyi :
عن أبي عبدالرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق " إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة
Dari Abu 'Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, "Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi 'Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.
[Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643]

  1. Makna Percaya Adanya Takdir
Mempercayai dan beriman adanya takdir mrmberikan makna dimana kita wajib mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi dialam ini, dalam kehidupan dan diri manusia adalah menurut hukum, berdasarkan suatu takdir.
Beberapa hal yang berkaitan dengan takdir :
Pertama, bahwa jagat raya ini isinya antara lain bintang-bintang dan planet-planet yang semuanya berjalan menurut “hukum universal” dalam rotasi,revolusi dan kesetimbangan benda-benda langit. Begitu juga isinya yang terdiri dari berbagai jenis benda (padat,cair,gas) telah tersusun oleh suatu rumus-rumus tertentu. Semuanya itu adalahh hukum universal (takdir) Allah SWT kepada makhluknya.
Kedua, bahwa dalam diri kita ada roh, dengan roh itulah kita hidup. Akan tetapi kita  sama sekali tidak punya kekuasaan terhadap roh itu. Manakala ia akan memisahkan diri dari jasmani kita,ia tidak akan memandang usia dan kedudukan, kita tidak mampu menaklukkannya dan untuk itu tibalah akhir hayat kita. Begitulah Takdir Allah SWT.
Ketiga, bahwa setiap manusia lahir krdunia bukanlah atas kehendaknya sendiri. Manusia lahir tidak memilih bangsa dan tanah air. Semuanya terlepas dari kehendak dan kekuasaan manusia. Pada hal bentuk kehidupan seseorang ditentukan oleh drajat pendidikan,sosial dan rumah tangganya dimana ia lahir. Masalah ini semuanya bergantung kepada kehendak dan kekuasaan Allah SWT semata-mata berdasarkan atas takdir Allah SWT.
Keempat, bahwa pada diri tiap-tiap orang memiliki watak,pembawaan lahir dan bakat yang berbeda satu sama lain.masalh tersebut diluar kehendak manusia, ia adalah takdir Allah SWT.
Kelima, bahwa tidak pernah terdapat seseorang yang ingin sakit atau gagal. Sehat lahir batin dan sukses, itulah yang selalu menjadi doa dan impian manusia. Karena itulah manusia belajar tentang kesehatan,ilmu dan metode untuk sukses. Namun kita dihadapkan kepada kenyataan, bahwa pada saat yang tak terduga bahkan pada waktu yang begitu penting bagi kita, secara tiba-tiba jatuh sakit. Suatu urusan yang telah diperhitungkan secara matang, telah pula ditinjau dari berbagai segi, tapi kemudian gagal. Maka sakit dan gagal bukanlah kehendak manusia. Semuanya adalah peranan takdir. Suka atau tidak, takdir Allah SWT jua yang berkuasa.
  1. Manfaat Meyakini Takdir Allah SWT
Adapun beberapa manfaat meyakkini dan mengetahui Takdir- takdir Allah SWT, diantaranya yaitu:
a)      Kepercayaan kepada takdir memberikan keseimbangan jiwa, tidak berputus asa karena sesuatu kegagalan dan tidak pula membanggakan diri atau sombong karena sesuatu kemujuran.sebab segala sesuatu tidak hanya bergantung pada dirinya sendiri, melainkan juga keharusan universal, mengembalikan segala persoalan kepada Allah Yang Mahakuasa.
b)      Meyakini adanya takdir akan membawa peningkatan ketakwaan, bahwa baik keberuntungan maupun kegagalan dapat dianggap sebagai ujian dari Allah SWT. Ujian itu perlu diberikan kepada mereka yang beriman agar sejahtera dan bahagia hidupnya. Ujian itu akan menilai kualitas iman seseorang dan untuk mempertinggi takwa, guna menjadi modal hidup yang paling berharga sebagai seorang muslim.
c)      Mengimani takdir bukan berarti menyerah pada nasib. Orang yang menyerah pada nasib memang membuat malas dan lamban, serta berhenti pada titik kegagalannya. Sementara itu, orang yang beriman pada takdir justru tak akan berlarut-larut dalam kesedihan dan tak akan tenggelam dalam kegagalan. Ia akan segera bangkit. Kala ia meraih kesuksesan atau kebahagiaan, ia pun tak berbangga diri. Ia sadar bahwa apa yang ia raih semata-mata karena takdir Allah SWT.
  1. Kesimpulan
Berdasarkan keterangan-keterangan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa didalam menghadapicobaan atau musibah yang datangnya dari Allah SWT ada perkara-perkara yang harus kita terima apa adanya karena kita harus menerimanya dengan penuh kesabaran dan kerelaan. Namun ada pula ketentuan yang dituntut kepada kita supaya berikhtiar untuk merubahnya. Dalam hal ini, jika kita tidak berusaha untuk merubah kearah yang lebih baik, maka kesalahan akan ditimpakan kepada diri kita sendiri,karena segala sesuatu itu dikehendaki Allah SWT, tetapi Allah SWT juga bisa merubah yang dikehendaki jika manusia itu mau ikhtiar.
  1. Referensi
Al Qur’anul Karim
Hadist Arba’in Nawawi
Dienul Islam, Drs. K.H. Nasruddin Razak,(216,217,218,223)
Ibn Khasbullah, Tanbihun.com
Buku Rahmat Disebalik Dugaan, Akhifaizul.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar