• images-no-1.jpg
  • images-no-2.jpg
  • images-no-3.jpg
  • images-no-4.jpg
  • images-no-5.jpg

Pages

19 Mei 2013

USWATUN HASANAH & MAU'IDATUL HASANAH

3 komentar


Oleh: Rofiqoh Anur

A. Uswatun Hasanah

    Uswatu hasanah terdiri dari dua rangkaian kalimat, uswah dan hasanah. Uswah berarti ; ikutan, panutan. Hasanah bermakna “yang baik”. Uswatun Hasanah adalah contoh suri teladan yang baik. Bagi umat islam tokoh utama yang menjadi uswatun hasanah tak lain adalah Rasulullah saw. Hal ini Allah sebut dalam Q.S Al - Ahzab ayat 21:
  
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21)

    Ayat ini turun ketika terjadi perang Khandaq. Waktu itu , Rasulullah dan para sahabatnya menggali parit di sebelah utara kota Madinah sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi koalisi musuh gabungan antara kaum jahiliyah Mekah dengan bala bantuan Yahudi dan Nasrani Madinah. Parit yang digali itu cukup panjang, lebar dan dalam. Perbekalan yang tersedia sangat menipis, sehingga para sahabat terpaksa mengganjal perutnya dengan batu sebagai penahan rasa lapar. Beberapa sahabat datang kepada Rasulullah mengadukan keadaan mereka yang kelaparan, sambil memperlihatkan perutnya yang diganjal batu. Maka Rasulullah pun membukakan bagian perutnya, dan nampaklah dua buah batu mengganjal perut beliau, kemudian turunlah Q.S al-ahzab ayat 21 di atas. Rasulullah memberi teladan yang baik kalau para sahabat hanya diganjal dengan satu buah batu, beliau malah diganjal dengan dua buah batu, disini jelas bahwa rasulullah lebih merasakan lapar dari pada sahabat–sahabatnya, ini memberi contoh bahwa pemimpin tidak boleh hanya mengutamakan diri sendiri, tetapi harus memperhatikan nasib rakyatnya. Sebagai uswatun hasanah, Rasulullah memiliki budi pekerti yang luar biasa. Allah memuji budi pekerti Rasulullah dalam Q.S Al Qalam ayat 4:

Sesungguhnya engkau memiliki budi perkerti yang agung (QS Al-Qalam ayat 4)

    Karena keluhuran akhlak beliau, maka Allah jadikan semua perkataan, perbuatan dan ketetapan beliau sebagai landasan hukum bagi umat islam yang ke dua setelah Al-Quran.
Keluhuran budi pekerti Rasulullah berada pada semua aspek. Rasulullah merupakan suri teladan yang sempurna. Sebagai seorang pemimpin agama, beliau memperlihatkan akhlak seorang Nabi yang berjuang dengan santun, sabar, dan ikhas. Dalam berdakwa beliau tabah menghadapi gangguan dari musuh-musuh beliau yang tak lain berasal dari kaum beliau sendiri. Ketika berdakwah ke kota Thaif, Rasulullah mendapat perlakuan kasar, dilempari kotoran dan hewan batu sampai kaki beliau terluka. Dalam keadaan demikian Allah memberikan izin kepada malaikat penjaga gunung untuk membalikkan gunung keatas kaum Thaif bila Rasulullah kehendaki. Namun Rasulullah saw malah berdoa supaya Allah melahirkan dari keturunan mereka kaum yang menyembah Allah swt, tidak mempersekutukanNya. Sebagai seorang pemimpin negara, Rasulullah memperlihatkan kepada umatnya bagaimana seharusnya akhlak seorang pemimpin. Beliau menjadi seorang pemimpin yang memecahkan masalah dengan musyawarah, padahal pandangan beliau sendiri sudah cukup tanpa perlu bermusyawarah dengan para shahabat. Cara dan metode Rasulullah dalam memimpin umat diikuti oleh empat shahabat utama beliau yang memerintah setelah wafat Rasulullah, sehingga dijuluki dengan Khulafaur Rasyidin; para pengganti yang mendapat petunjuk. Dalam kehidupan rumah tangga, Rasulullah juga menjadi contoh suami yang baik, selalu bersikap sabar, arif, dan mencintai keluarganya, berlaku adil terhadap istri-istri beliau. Beliau tidak terlalu menyibukkan istri-istrinya, bahkan kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual. Rasulullah juga memberikan contoh hidup zuhud di dunia ini. Dalam satu dikisahkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, "Umar bin Al- Khaththab ra. bercerita kepadaku, "Aku pernah memasuki rumah Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam, yang saat itu beliau sedang berbaring di atas selembar tikar. Setelah aku duduk di dekat beliau, aku baru tahu bahwa beliau juga menggelar kain mantelnya di atas tikar, dan tidak ada sesuatu yang lain, Tikar itu telah menimbulkan bekas guratan di lambung beliau. Aku juga melihat di salah satu pojok rumah beliau ada satu takar gandum. Di dinding tergantung selembar kulit yang sudah disamak. Melihat kesederhanaan ini kedua mataku meneteskan air mata. Mengapa engkau menangis wahai Ibnul-Khaththab?" tanya beliau "Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis jika melihat gurat-gurat tikar yang membekas di lambung engkau itu dan lemari yang hanya diisi barang itu? Padahal Kisra dan Kaisar hidup di antara buab-buahan dan sungai yang mengalir. Engkau adalah Nabi Allah dan orang pilihan-Nya, sementara lemari engkau hanya seperti itu. Rasulullah menjawab "Wahai Ibnul- Khaththab, apakah engkau tidak ridha jika kita mendapatkan akhirat, sedangkan mereka hanya mendapatkan dunia? ".
Kedudukan Rasulullah sebagai uswatun hasanah dengan akhlak yang luhur merupakan salah satu hikmah diutusnya beliau ke muka bumi ini yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Dalam satu hadits Rasulullah bersabda:


“saya diutus untuk menyempurnakan akhlak”

Dengan akhlak yang luhur tersebutlah, beliau mampu mengajak umat untuk beriman hanya dalam jangka waktu yang singkat. Keberhasilah dakwah Rasulullah tidak terlepas dari akhlak mulai beliau, dalam Q.S Ali Imran ayat 159 Allah berfirman:


Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang- orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Semua kalangan mengakui bahwa Rasulullah merupakan seorang tokoh yang memiliki sifat luhur. Semenjak kecil beliau telah dijukuli dengan “Al- Amin” yang berarti “orang terpercaya”. Bahkan Michael H. Hart dalam bukunya 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah menjatuhkan pilihannya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar 100 Tokoh Paling berpengaruh di dunia. Ia mengatakan “saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu- satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar”.


B. Al-Mau'idatul Hasanah

    Al Mauidhotul hasanah atau lebih akrab kita mengenalnya dengan kata Nasehat, berasal dari kata( ﺢﺼﻧ ) berarti ( ﺺﻠﺧ ) murni, dan bersih dari kotoran, dan juga berarti ) ﻁﺎﺧ ) menjahit. Al Mau’idhatul Hasanah adalah pelajaran yang baik. Sedangkan nasehat adalah salah satu dari Al Mau’idhatul Hasanah yang bertujuan mengingatkan segala perbuatan pasti ada sangsi dan akibat. Sebagaimana dikutip oleh Munzier Suparta , Imam Al Asfahani mengatakan bahwa Al Mau’idhah merupakan tindakan mengingatkan seseorang dengan baik dan lembut agar dapat melunakkan hatinya lalu tertarik dengan ajakannya. Abdul Muhsin Al Abbad berkata : Nasehat adalah kata yang meliputi pendirian orang yang menasehati kepada mad’u dari sisi kebaikan baik secara kehendak maupun perbuatannya. Sementara itu Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan bahwa nasehat adalah mencurahkan perhatian kepada orang lain untuk tertarik kepada kebaikan, mendorong untuk melakukannya, menjelaskannya dan berusaha agar orang tersebut mencintai kebaikan yang ditawarkan. Secara terminologi, Nasihat adalah memerintah atau melarang atau menganjurkan yang dibarengi dengan motivasi dan ancaman. Pengertian nasihat dalam kamus Bahasa Indonesia adalah memberikan petunjuk jalan yang benar. Juga berarti mengatakan sesuatu yang benar dengan cara melunakkan hati. Nasehat harus berkesan dalam jiwa atau mengikat jiwa dengan keimanan dan petunjuk.
Pendapat para ahli diatas, menunjukkan makna bahwa motivasi seseorang melakukan mau’idhotul hasanah adalah agar orang yang diberi nasehat tertarik dengan apa yang akan diberikan, dimana hal itu dilakukan dengan mencurahkan perhatian secara penuh, dengan harapan al manshuh ilaih ( orang yang dinasehati ) menjadi lunak hatinya untuk kemudian terdorong untuk melakukan kebaikan yang ditawarkan.


Dalil - Dalil Perintah AL - Mau'idhatil Hasanah dalam Al - Qur'an dan Hadits

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( QS. An Nahl : 125 )
"Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan Aku memberi nasehat kepadamu. dan Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui" ( QS. Al A’raf : 62 )
“ dan kalaulah mereka melaksankan pengajaran yang diberikan kepada mereka niscaya hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka danlebih menguatkan iman mereka “ ( QS.An Nisa : 66 )
Dari Abu Ruqoyyah Tamiim bin Aus Ad-Daari rodhiyallohu’anhu, sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ”Agama itu adalah nasihat”. Kami (sahabat) bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau bersabda: ”Untuk Alloh, kitab-Nya, rosul-Nya, pemimpin-pemimpin umat islam, dan untuk seluruh muslimin.” (HR.Muslim)
“Dari Jarir bin Abdullah rodhiyallahu ‘anhu berkata ; “ Aku melakukan baiat ( janji setia ) kepada rasulullah untuk mendirikan shalat, membayar zakat dan member nasehat kepada setiap muslim ( Mutafaqun ‘alaihi )”

Ruang Lingkup Nasehat

     Sesuai dengan hadits nabi diatas yang diriwayatkan oleh sahabat Tamim bin Aus Ad Dary, Rasulullah menjelaskan bahwa nasihat dalam dakwah Islam ini meliputi nasehat kepada Allah, kepada kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh umat Islam.

a. Nasihat kepada Allah
Nasehat kepada Allah adalah menjauhi laranganNya dan melaksanakan segala perintahNya dengan seluruh kemampuan yang dimiliki seseorang, apabila ia tidak mampu karena udzur, maka dia tetap berniat untuk melaksanakan kewajiban tersebut. Sedangkan menurut penjelasan Abdul Muhsin Al Abbad tentang Nasehat kepada Allah adalah :
“ Nasihat kepada Allah adalah mentauhidkan-Nya, dan mensifatiNya dengan sifat-sifat yang sempurna lagi agung, mensucikanNya dari apa yang bertentangan dengan hal itu, menjaukan diri dari berbuat maksiat kepadaNya, berusaha melakukan ketaatan-ketaatan kepadaNya dengan senang hati dan ikhlas, cinta kerana Allah dan benci karena Allah, memerangi orang-orang yang mengingkariNya, dan tidak rela dengan hal itu, mengajak kepada itu semua yang telah disebutkan dan menganjurkannya. Berbeda dengan dua pendapat diatas, Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan bahwa nasehat kepada Allah mengandung dua perkara, yaitu memurnikan ibadah hanya kepadaNya, bersaksi dengan ke-Esa-anNya dalam rububiyahNya, penghambaan kepadaNya, dan Asma wa SifatNya. Melihat penjelasan para Ulama diatas, maka maksud dakwah sebagai nasehat kepada Allah tidak ada yang lain kecuali untuk menegakkan kebenaran kalimat Allah, mengibarkan panji-panji Tauhid ditengah-tengah kehidupan manusia, sehingga mereka hidup diatas fithrah yang suci bertuhan dan menghamba hanya kepada Allah semata.

b. Nasehat kepada kitab-Nya
Adapun nasihat kepada kitabNya ialah dengan mengimani sepenuh hati bahwa Al Quran itu kalamullah, wajib mengimani apa yang terkandung didalamnya, mengamalkan, memuliakan dan membaca sebenar-benarnya, mengutamakan Al Quran dari yang lain, dan penuh perhatian untuk mengkaji dan mempelajarinya. Sedangkan menurut Al Utsaimin nasihat kepada Allah mengandung enam perkara yaitu :
·         Membela Al quran dari penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang sesat dan menjelaskan kebathilan penyimpangan orang yang menyeleweng.
·         Membenarkan kabar Al Quran dengan sebenar-benarnya, tanpa meremehkan dan mendustakan kandungan didalamnya, dan seandainya dia mendustakan apalagi ragu-ragu terhadap satu kabar dari Al Quran berarti dia belum menjadi orang yang memberi nasehat kepada Al Quran.
Melaksanakan seluruh perintah yang ada didalamnya sekalipun hanya satu perintah, jika belum mengerjakannya maka belum dikatakan sebagi orang yang memberi nasihat kepada Al Quran.

c. Nasehat kepada Rasul-Nya
Nasihat kepada Rasul-Nya yaitu dengan meyakini bahwa beliau sutama-utama makhluk dan kekasih Allah. Allah mengutusnya kepada manusia agar beliau mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang dan menjelaskan kepada mereka jalan allah yang lurus agar mereka mendapatkan kenikmatan surga dan terhindar dari api neraka dengan mencintainya, memuliakannya dan mengikutinya. Barang siapa yang taat kepada beliau, maka ia taat kepada Allah. Barangsiapa yang menentangnya maka ia telah menentang Allah dan kelak akan diberi balasan yang setimpal. Menurut Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Nasehat kepada Rasul-Nya mengandung beberapa perkara yaitu :
·         Semata-mata hanya mengikuti beliau dan tidak mengikuti orang selain beliau.
·         Mengimani sepenuh hati bahwa beliau adalah benar-benar Rosulullah, bukan orang yang mengada-ada tentang agama ataupun dengan mengatakan agama Islam ini adalah buatan beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam.
·         Mengimani seluruh kabar yang datang dari beliau baik kabar tersebut telah berlalu terjadinya, maupun sedang terjadi, ataupun yang akan terjadi kelak.
·         Melaksanakan perintah beliau dan menjauhi larangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
·         Tidak meremehkan syariat ataupun sunnah-sunnah beliau SAW.
·         Meyakini sepenuh hati bahwa apapun yang datang dari beliau maka hal itu seperti apa yang datang dari Allah.
Menolong nabi dikala nabi masih hidup, adapun ketika beliau sudah wafat maka dengan menolong sunnah-sunnah beliau SAW dengan berusaha menghidupkan kembali sunnah-sunnah beliau.

d. Nasehat kepada para pemimpin
Nasihat kepada para pemimpin ada dua jenis;
Pertama, nasihat kepada para Ulama Rabbani yaitu mereka yang mewarisi nabi SAW dalam hal ilmu, ibadah, akhlaq dan dakwah. Dan merekalah ulil amri yang sebenarnya, karena merekalah yang langsung bersinggungan dengan urusan kalangan orang awam dan pemerintah, menjelaskan agama Allah dan mengajak manusia kepadanya. Kepada para Ulama ini nasihatnya adalah mencintai mereka, membantu mereka dalam menjelaskan Al Haq, tidak melecehkan mereka.
Kedua, nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin, yaitu umara’ ( pemerintah ) yang menegakkan syariat Allah dan melayani urusan-urusan kaum muslimin. Kepada mereka ini nasihatnya adalah mempercayai bahwa mereka adalah imam mereka dalam urusan keduniaan, menyebarkan kebaikan mereka, bukan mengumbar aib mereka, mentaati aturan-aturan yang ada selama bukan bermaksiat kepada Allah.

e. Nasehat kepada seluruh umat islam
Nasihat kepada seluruh ummat Islam adalah dengan menolong mereka dalam hal kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar, dakwah, saling memberi nasehat, mencintai mereka dalam hal keimanan.

 Referensi:

·         Munzier Suparta dan Harjanie Hifnj, Metode Dakwah, Jakarta : Kencana, 2006, hal.243
·         Djamaluddin Ahmad Al-Buny, Uswatun Hasanah, Yogyakarta: Mitra Pustaka,1980

Ikhlas dan Taqwa

3 komentar


Oleh Elis Sofanawati
IKHLAS
Ikhlas adalah sifat hati yang bersih dari campuran yang mencemarinya atau suatu yang murni, dimana ketulusan adalah kunci keikhlasan dalam setiap tindakan tanpa adanya dorongan riya’ dan takabur dalam sanubari.
Allah SWT telah berfirman dalam Q.S. An-Nahl: 66,
“Berupa susu yang bersih di antara tahi dan darah yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya”.
Apabila suatu perbuatan bersih dari riya’ dan ditujukan bagi Allah maka perbuatan itu dianggap murni. Setiap hamba Allah memiliki kemampuan dan kemauan dalam beribadah yang berbeda-beda. Sedangkan nilai ibadah seorang hamba di hadapan Allah ditunjukkan dengan ikhlasnya dalam beramal. Tanpa keikhlasan takkan berarti apa-apa amal seorang hamba karena tidak ada nilainya di sisi Allah.
Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi teramat sangat penting dan akan membuat hidup ini menjadi lebih mudah. Balasan yang dinikmati hamba Allah yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun amalan tersebut belum dilakukan. Di samping itu akan merasakan ketenteraman jiwa dan batin karena dia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian. Penghargaan atau imbalan dipuji atau tidak sama saja. Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi ataupun imbalan duniawi, konsentrasi orang ikhlas hanya satu yakni bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah. Hamba Allah yang luas mampu beribadah secara istiqomah dan terus kontinu. Orang yang ikhlas adalah orang yang kualitas amalnya dalam kondisi ada atau tidak adanya orang yang memperhatikan adalah sama. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas ibadahnya justru lebih bagus ketika ada orang lain yang memperhatikannya. Pendapat sufi tentang keikhlasan; Al-Susiy berkata “Keikhlasan itu adalah ketiadaan melihat ikhlas. Karena barang siapa menyaksikan keikhlasan di dalam keikhlasan, maka keikhlasannya membutuhkan keikhlasan”. Dikatakan Sahl “Manakah yang paling berat terhadap nafsu? Sahl menjawab : Keikhlasan karena dia tidak punya bagian dari keikhlasan”.
Ia berkata pula : “Keikhlasan adalah tenangnya manusia dan gerak-geraknya karena Allah SWT semata-mata”.
Tanda-tanda ikhlas seorang hamba:
1.      tidak mencintai popularitas dan tidak menonjolkan diri,
2.      tidak rindu pujian dan tidak terkecoh pujian,
3.      tidak silau dan cinta jabatan,
4.      tidak diperbudak imbalan dan balas budi,
5.      tidak mudah kecewa,
6.      tidak membedakan amal yang besar dan amal yang kecil,
7.      tidak fanatik golongan,
8.      ringan dan lahap dalam beramal,
9.      ridho dan marahnya bukan karena perasaan pribadi,
10.  tidak membeda-bedakan pergaulan.
Keikhlasan seorang abrar adalah apabila amal perbuatan telah bersih dari riya’ baik yang jelas maupun tersamar, sedangkan tujuan amal perbuatannya selalu hanya pahala yang dijanjikan Allah SWT. Adapun keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin adalah ia merasa bahwa semua amal kebaikannya semata-mata karunia Allah kepadanya sebab Allah yang memberi hidayah dan taufik.
Dengan kata lain amalan seorang hamba yang abrar dinamakan amalan lillah, yaitu beramal karena Allah sedangkan amalan hamba yang muqarrabin dinamakan amalah billah, yaitu beramal dengan bantuan karunia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum dzakir. Sedangkan amal billah menembus ke dalam perasaan kalbu. Kekuatan dahsyat adalah keikhlasan seorang hamba yang muqarrabin yang senantiasa mendekatkan dirinya pada Allah Azza Wa Jalla.
  
TAKWA
Menurut arti harfiah, takwa berarti hati-hati, ingat, mawas diri dan waspada. Kata takwa tidak dapat diartikan sama dengan “takut”, karena sifat takut itu lebih banyak bercampur dengan rasa benci. Padahal persoalan takwa ialah segi hubungan manusia dengan Tuhannya, dimana tidak boleh terdapat dalam hubungan itu unsur benci walaupun sedikit. Dalam pengertian umum - sebagaimana yang telah dikemukakan berulang-ulang kali dalam pembahasan-pembahasan yang lalu takwa ialah sikap mental orang-orang mukmin dan kepatuhannya dalam melaksanakan perintah-perintah Allah SWT serta menjauhi larangan-larangan-Nya atas dasar kecintaan semata.

Kriteria Orang-orang Takwa
Untuk memahami takwa itu dengan sebaik-baiknya, sudah barang tentu Qur’anlah sebagai penuntun bagi kita dalam memberikan penjelasan dan keterangan kepada kita. Menurut Qur’an, kriteria orang-orang takwa sebagai berikut:

 “Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”.[1]
Berdasarkan atas ayat-ayat Al-Qur’an di atas, dapat dipahami bahwa takwa itu terdapat pada :
1.      Mereka yang beriman pada yang gaib seperti adanya Allah, malaikat-malaikat dan hari akhirat.
2.      Mereka yang melaksanakan pokok-pokok ibadah (terutama shalat, zakat, dan mereka yang berinfaq, membelanjakan hartanya di jalan Allah). Ini menjadi bukti adanya iman bagi seseorang kepada yang gaib.
3.      Mereka beriman kepada yang gaib dan melaksanakan pokok-pokok ibadah adalah orang-orang yang beruntung hidupnya, atau menurut istilah lain, sukses. Beruntung dan sukses adalah cita-cita dan tujuan akhir dari segala kerja-kerja manusia di dunia. Sebab itu bila seorang bertakwa maka dia telah sampai pada derajat yang paling tinggi.
Lebih lanjut keterangan Qur’an tentang takwa, sebagai berikut:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”.[2]

Menurut ayat-ayat ini, kriteria muttaqin (orang-orang takwa) ialah mereka yang:
a.       Selalu menuju kepada ampunan (maghfirah) Tuhan. Artinya senantiasa bekerja sesuai dengan ridha Tuhan; bukan yang dilarang dan yang dimurkai-Nya. Dan bila tersalah atau terlupa, cepat-cepat beristighfar (mohon ampun) pada Tuhan.
b.      Suka menafkahkan (infaq) sebagian harta bendanya, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit. Membayar zakat memberi makanan kepada fakir miskin dan anak-anak yatim, memberi sumbangan atau derma kepada kegiatan dakwah Islam dan sebagainya, semuanya termasuk kategori menafkahkan sebagian harta benda.
c.       Sanggup menahan amarahnya. Artinya orang yang dapat mengendalikan emosi dan nafsunya. Kemampuan seseorang mengendalikan emosi dan nafsunya membuat dia menjadi manusia besar, bukan besar fisik tetapi besar jiwanya.
d.      Memaafkan kesalahan orang lain. Tidak menaruh dendam terhadap seseorang karena sesuatu kesalahan, baik sengaja maupun tidak. Karena dendam itu dapat membawa bencana terhadap diri sendiri, orang lain dan kepada masyarakat.
e.       Berbuat baik, pemaaf dan jujur. Semua menjadi tanda takwa kepada Allah.
f.       Apabila berbuat keji (faahisyah) dan menganiaya diri sendiri, segera mengingat Allah lalu memohon ampun. Perbuatan faahisyah ialah dosa besar yang mana bahayanya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti: membunuh, zina,r iba. Sedang menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang bahayanya terhadap diri sendiri saja.
g.      Tidak lagi meneruskan perbuatan dosanya ketika dia mengetahui bahwa perbuatan itu mengandung dosa. Atau tidak mengulangi kembali dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya secara sadar.
Keterangan-keterangan tentang takwa berdasar ayat-ayat ini menegaskan bahwa takwa itu adalah sikap hidup dan akhlak seorang muslim, yang merupakan buah dan hasil didikan ibadah-ibadah pokok. Sedang ibadah-ibadah itu sendiri adalah pancaran keluar daripada iman. Maka dapatlah kita memahami bahwa takwa itu adalah hasil daripada ibadah kepada Tuhan, karenanya tidak mungkin ada takwa tanpa ada ibadah. Tepat sebagaimana firman Allah SWT:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”.[3]
Selanjutnya beberapa ayat yang mengandung kata takwa, sebagai berikut:

“Awaslah kamu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir”.[4]
“Berhati-hatilah kamu sekalian terhadap malapetaka yang tidak hanya menimpa orang-orang jahat di antara kamu”.[5]
Pengertian takwa di sini kembali kepada arti harfiahnya. H.A. Salim menerangkan : “… takwa lebih tepat disalin kata “ingat” dengan makna awas, hati-hati. Yaitu menjaga diri, memelihara keselamatan diri, yang dapat diusahakan dengan melakukan yang baik dan benar, memantangkan yang jahat dan salah; seperti yang dikehendaki oleh takwa”.[6]
Dengan demikian pengertian takwa dalam Surah Ali Imran: 131 dan dalam Surah Al-Anfal 25 tersebut, tidaklah berbeda dengan takwa yang diterangkan dalam ayat-ayat yang lalu. Semua perkataan takwa di sini menunjukkan buah ibadah seseorang.
Bila takwa diartikan awas, ingat, seperti yang disimpulkan oleh H.A. Salim, maka tepatlah pengertian itu dan hubungan dengan “api neraka” dan “malapetaka” seperti yang termaktub dalam kedua ayat itu. “Awas” dan “hati-hati” merupakan sikap seseorang. “Sikap ini hanya dapat dilahirkan oleh kesadaran. Kesadaran itu dilahirkan oleh ibadah, hubungan muslim dengan Tuhan. Menyadari Tuhan sebagai Khaliq, Maha Kuasa, Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Suci, pendeknya segala maha yang bersifat esa, memberikan efek kepada kesadaran akan diri sendiri dalam berhadapan dengan Tuhan. Siapakah aku betapakah dan bagaimanakah aku, dari mana dan akan ke mana aku? Aku adalah makhluk dari Khalik, aku adalah manusia, aku penuh dengan tenaga dan kelemahan, aku nisbi dalam segala kesanggupan. Aku makhluk yang suatu ketika kembali kepada Khaliq”.[7]
Takwa itu adalah puncak kehidupan ibadah yang selalu dicari oleh setiap muslim. Tuhan selalu mendorong manusia untuk mencapai tingkatan itu dan berusaha mempertahankannya setelah mendapatnya. Demikianlah Tuhan mewajibkan kepada orang-orang beriman untuk berpuasa agar mereka bertakwa (Al-Baqarah: 183). Sebab takwa itu akan menanamkan akhlak mulia pada manusia yang efeknya bukan saja terhadap dirinya sendiri, tapi juga terhadap masyarakatnya.
Berikut ini ada lagi beberapa kriteria orang-orang yang takwa yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, ialah mereka yang:
a.       Menepati janji
“Barang siapa yang menepati janjinya dan bertakwa, maka sesungguhnya Tuhan menyukai orang-orang yang bertakwa”.[8]
b.      Menegakkan keadilan
“Tegakkanlah keadilan, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”.[9]
c.       Bersifat pemaaf
“Kalau kamu memaafkan, maaf itu lebih dekat kepada takwa”.[10]
d.      Bersifat istiqamah, yaitu berkepribadian kuat dan teguh
“Selama mereka bersifat lurus kepadamu, hendaklah kamu bersikap teguh hati (istiqamah) kepada mereka. Sesungguhnya Tuhan itu menyukai orang-orang yang takwa”.[11]
e.       Tidak mempunyai rasa takut dan duka cita dalam hidup yang berpancaroba, seperti sifatnya wali-wali Allah
“Sesungguhnya wali-wali Allah, mereka tidak merasa takut dan tidak berduka cita. Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa”.[12]
f.       Sabar, yaitu orang yang tabah, tahan uji, pantang menyerah dan tidak berputus asa. Sabar dalam beribadah, sabar dalam berjihad, sabar menghadapi musibah, sabar dari perbuatan maksiat dan sabar dari godaan duniawi.
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetap bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung (sukses)”.[13]

Takwa Sumber Kemenangan
Manusia yang berhasil mencapai derajat takwa kemudian berusaha mempertahankannya terus, dipandang sebagai manusia yang sukses ibadahnya. Ia laksana sebatang pohon yang baik, yang ditanam serta dipelihara, ia telah berbuah kemudian memberikan kenikmatan kepada manusia. Karena itu Tuhan menempatkan manusia takwa sebagai manusia paling mulia dan dalam pandangan-Nya.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”.[14]

Sebab itulah pula maka derajat takwa menjadi tujuan hidup kaum muslimin dalam hidupnya di dunia ini. Maka tiap-tiap Jum’at, khatib wajib selalu menasihatkan melalui mimbar Jum’at kepada hadirin untuk bertakwa dengan membacakan panggilan Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim”[15]
Hubungan dengan Tuhan bagi manusia yang hidup dalam berbagai persoalan duniawi, amatlah pentingnya. Orang-orang besar yang menjadi pemimpin-pemimpin dunia, sangat memahami persoalan ini. Sebagai contoh, baiklah di sini kita kutip pertanyaan dua orang besar, sebagaimana yang dicatat oleh M. Yunan Nasution.[16]
Mahatma Gandi, pemimpin dunia yang dalam perjuangannya dibesarkan dengan pukulan, pernah menyatakan : “Kalau tidaklah karena kepercayaan, sudah lama saya hancur” (without prayer, I should have been a lunatic long ago). Dan Arnold Toynbee, historikus Inggris yang terkenal itu, pernah menyatakan antara lain: “Religion indispensable for human beings, and without it, the existence of man was not possible. Religion was essential for solving the most complicated problems of the individual and the society. In modern scientific advancement, religion has still to play a better and important hole for the preservation of the personality of man” (Agama sangat diperlukan bagi hidup manusia. Tanpa agama, keadaan manusia tak mungkin bertahan. Agama mutlak untuk memecahkan persoalan-persoalan yang paling ruwet dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Dalam dunia kemajuan pengetahuan modern, agama itu memainkan peranan yang lebih baik dan penting untuk melindungi kepribadian manusia).
Orang-orang yang berusaha selalu mendekat Tuhan, tentu Tuhan selalu menyertainya pula, sehingga mudahlah baginya menempuh perjalanan hidupnya.
Maka orang-orang mukmin yang bertakwa, pasti mempunyai kekuatan yang mampu menghadapi segala macam problematika hidup, sanggup mengatasi saat-saat yang kritis, dapat mendobrak jalan-jalan buntu yang menghambat, bisa melihat sinar yang menerangi jalan di tengah-tengah malam yang gelap gulita. Pendek kata, takwa membukakan way out kepadanya, dari setiap problem dan situasi yang kritis. Tepat benar janji Allah SWT: 
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”.[17]
“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusan-urusan (yang dihadapinya)”.[18]

“Jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan”.[19]
Demikianlah agama Islam ini membina kehidupan manusia, diawali dengan tauhid. Dan dari tauhid menebarkan iman dan aqidah yang membuahkan amal ibadah dan amal shalih. Akhirnya amal ibadah yang dijiwai oleh iman dan dipelihara terus menerus, menciptakan suatu sikap hidup muslim yang bernama takwa.
Maka apabila dalam suatu hidup kenegaraan, takwa menjadi sendinya dimana penguasa dan rakyat hidup bertakwa, tentu kehidupan kenegaraan itu mendapat karunia dan ridha Allah SWT. Kalau penguasa suatu negeri, yang mana selalu menjadi sumber teladan rakyat, keamanan dan ketenteramannya, memiliki sifat-sifat takwa dari minimal enam sifat-sifat takwa yang telah disebut yang lalu, niscaya bereslah segala soal.
Apa sebab segala soal dapat beres? Sungguh besar efek bagi rakyat terhadap penguasa yang menepati janji, disiplin menegakkan keadilan (melaksanakan rule of law) dan bersifat pemaaf, artinya tidak bertabiat hasad, dengki dan balas dendam. Di samping itu kepada rakyat ditanamkan jiwa istiqamah, yaitu pribadi yang teguh dan kuat, serta tidak ada rasa takut dan duka cita, tetapi selalu optimis dalam hidup. Ketenteraman, keamanan dan hak-hak rakyat dibelanya dengan sesungguhnya. Jika para penguasa dan pemimpin menjadi pelopor dalam takwa, pastilah terwujud suatu negara yang adil dan makmur di bawah naungan ridha Allah SWT. Itulah kemenangan hakiki!
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”[20]
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa (muttaqin) mendapat kemenangan”[21]
Jadi kesimpulannya : “takwa sumber kemenangan!”.



Daftar Pustaka
Nasruddin Razak, Drs., Dienul Islam, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1989.









[1] Al-Baqarah (2): 1-5
[2] Ali Imran (3): 133-136
[3] Al-Baqarah (2): 21.
[4] Ali Imran (3): 131.
[5] Al-Anfal (8): 25
[6] H.A. Salim, Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Taqdir dan Tawakkal, hal. 82.
[7] Drs. Sidi Gazalba, op. Cit., hal. 66-67.
[8] Ali Imran (3): 76.
[9] Al -Maidah (5): 8.
[10] Al-Baqarah (2): 237.
[11] At-Taubah (9): 7.
[12] Yunus (10): 62-63.
[13] Ali Imran (3): 200.
[14] Al-Hujurat (49): 13.
[15] Ali Imran (3): 102.
[16] M. Yunan Nasution, op. cit., hal. 18.
[17] At-Talaq (65): 2.
[18] At-Talaq (65): 4.
[19] Al-Anfal (8): 29.
[20] Al-A’raf (7): 96.
[21] An-Naba’ (78): 31.